Menurut hemat saya, nasi kucing di Semarang cukup mendunia, bahkan lebih banyak yang jual nasi kucing dari pada yang jual Loenpia, yang notabene Loenpia Icon utama kuliner Semarang, he3x....walaupun gak satu2nya sih, selain itu ada juga bandeng presto, wingko babat sebagai pendukungnya.
Nasi kucing sendiri dapat dijumpai disetiap pojok, ujung gang, pasar, bahkan di deket kampus-kampus favoritpun nasi yang disajikanya dengan gerobak roda bertenda itupun selalu stanby. Pernah saya iseng tanya kepada salah satu penjual Nasi Kucing di kawasan kampus Tugu Muda Semarang, tentang banyaknya warung makan yang notabene sama-sama menjual Nasi, dengan santainya si penjual yang sambil menyampirkan kalung lap piring di pundaknya bilang ”Nasi kucing ada pelangganya sendiri mas, terlebih2 rejeki sudah ada yang ngatur” jawab si penjual sambil melayani pembeli yang waktu itu sangat membludak.
Jadi disini sangat jelas bahkan bisa di pastiin dari sisi penjual dan mendunianya, nasi kucing lebih unggul, tapi untuk menjadi salah satu kuliner khas kota semarang, ini yang harus dipertimbangin oleh instansi terkait. Memang sih tidak mudah prosesya, harus ditinjau dari beberapa aspek history dan tingkat kelayakanya nasi kucing itu sendiri. Nah.....monggo deh.. temen2 tinggal menilai sendiri pantas tidaknya nasi kucing jadi salah satu khas kuliner Semarang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar